Sahabatku Asri Larasati


Tulisan ini ku persembahkan untuk sahabatku Asri.
Kuanggap tulisan ini untuk mengingatkanku akan berartinya dirimu saaat itu.


Ketika saya masuk Universitas Diponegoro Semarang, suasana hati saya tidak begitu baik. Banyak hal yang melatar belakanginya, diantaranya penolakanku akan takdir bahwa aku harus bersekolah di Semarang…sementara yang kuinginkan adalah kuliah di UGM Jogjakarta. Saya merasa kondisi Semarang tidak bersahabat buatku, dilihat dari cuacanya yang panas dan orang- orangnya. Penilaian saya ini didasari pengalaman saya waktu SMA. Saya diundang oleh Depdiknas (dulu-red) untuk mengikuti penataran kepemudaan se- Jawa Tengah selama beberapa hari. Saya kebetulan harus tinggal di sebuah mess bersama anak- anak Semarang. Dari beberapa teman baru saya itu hanya satu yang tidak memandang rendah anak – anak dari luar Semarang.

Peristiwa itu telah terpatri di pikiran saya dan membuat saya tidak bersemangat menyambut hari pertama kuliah saya. Suasana hati saya saat itu kalau harus digambarkan hanya kesunyian yang menyertaiku, padahal banyak orang di sekitarku. Teman- teman baikku kala SMA sudah menyebar di mana-mana. Di awal kuliah aku masih mencari teman sekenanya. Aku sempat dekat dengan Eri, si rambut panjang yang non muslim. Tapi tak berlangsung lama karena sepertinya kami tidak menemukan “klik”untuk menjadi teman yang lebih dekat. Maaf ya Er, tapi kita tetep baik kok ya…hehe.

Untuk membunuh rasa sepiku, kakak sepupuku yang kebetulan juga kuliah di Undip menawariku untuk ikut orientasi BAI (Badan Amalan Islam). Yah kupikir apa salahnya… siapa tahu aku menemukan soulmate di sini karena sepertinya aku senang dengan orang yang peduli dengan agama. Pada saat itu aku memang bertemu dengan beberapa teman baru. Tapi tidak ada yang langsung bisa baik. Sejalan dengan perkuliahan yang mulai padat. Akhirnya aku menemukan seorang teman yang pelan pelan mengisi hari-hariku. Namanya Asri Larasati, dia anak Semarang. Tidak seperti anak Semarang yang lain yang pernah ku temui. Dia cukup pendiam kala itu dan baik sekali.Kemanapun kami selalu bersama. Kami saling dukung dalam segala hal. Tidak jarang aku tidur di rumahnya. Lumayan juga lho pengiritan dan bisa makan enak…..hehehe.
Darinya aku tahu kalau sewaktu SMA dia pernah mencoba obat terlarang, dan lingkungan teman-temannya waktu itu tidak begitu baik. Aku kaget dan tidak menyangka anak sependiam dia pernah mencoba sesuatu yang dilarang. Tp tidak masalah bagiku, selama dia sudah menyadari bahwa itu tidak baik, dan dia mau berubah. Asri itu anaknya lebih pintar dariku….dan tentu lebih rajin. Sayangnya sepertinya dia mudah sekali terbawa oleh lingkungan yang ada di sekelilingnya. Jadi dia harus berada di lingkungan yang benar2 mendukung dia pada kebaikan.
Alhamdulillah selama berkawan denganku banyak perubahan yang terjadi, diantaranya: dia yang solatnya suka bolong berangsur-angsur bisa komplit 5x sehari, Ibunya pun akhirnya memanggil guru ngaji untuk mengajari Asri . Sehabis maghrib, dia biasa tadarus Al Quran dengan kakak dan guru ngajinya. Setelah khatam Al quran, pelajaran mengaji dengan guru ngajinya tidak lantas selesai. Tafsir al quran mewarnai hari-harinya saat itu. Pada saat itulah saya merasa kualitas persahabatan saya dengan dia adalah sebuah pertemanan yang berkualitas. Bagaimana tidak, setiap kami bertemu kami saling share ilmu agama yang kita peroleh sebelumnya. Saya yang aktif ikut kajian di BAI membagikan ilmu yang saya dapat di kajian tersebut sedang asri membagikan ilmu yang dia peroleh dari guru ngajinya. Kalo ingat itu, rasanya saat itu adalah waktu terbaik dalam sejarah pertemanan kami. Disaat aku ada masalah dia selalu ada untuk membantuku dan support penuh. Inget saat  jadi panitia opspek, aku dibenci adik2 kelas karena katanya aku galak banget. Namanya juga opspek gethu loh….lagian mereka sulit banget dikasih tau. Suruh antre gak bisa, kasian panitianya dong….(ngeles nih)….hehe.. Sedih juga waktu itu, rasanya semua orang membenciku, tapi Asri meyakinkanku bahwa apa yang kulakukan sudah benar, untuk mengatur jalannya registrasi… Lega rasanya masih ada yang disampingku.

Sebenarnya dalam hubungan pertemanan dengan dia tidak selalu mulus. Banyak orang yang keluar masuk dalam kehidupan kami. Diantaranya Fina, Chandra, dan Edi . Ketika salah satu dari kami lebih dekat dengan salah satu dari mereka, bisa dipastikan akan ada yang cemburu atau merasa terabaikan, entah itu aku ataupun asri. Kami saling mengingatkan melalui surat…Yeah,… We kept convince that we’re not going to anywhere.

Namun, semenjak saya mulai aktif di Senat dan selalu mendampingi mas “Sekretaris I” ( saya Sekretaris 2) dia mulai merasa terabaikan dan mencari alternative pengalihan hati. Dia mengutarakan akan mengikuti audisi penyiar di salah satu Stasiun Radio di Semarang. Aku hanya mengiyakannya saat itu, aku pikir tidak mudah seseorang itu akan diterima menjadi seorang penyiar, dan kupikir dia tidak akan diterima.(ngarep.com) Namun ternyata dia di terima dan berhasil menjadi seorang penyiar yang cukup di kenal di Semarang. Tadinya aku yakin dia akan baik - baik saja. Namun lama-lama aku ngeri mendengar ceritanya. Dia bilang kalau temannya di Radio ada yang mengkonsumsi narkoba. Aku jadi takut Asri akan kembali tercebur di dunia hitam itu. Selain itu berdasarkan ceritanya ada temannya yang menjadi simpanan suami orang. Ku pikir betapa tidak bagusnya lingkungannya, sementara dia baru saja bangkit. Namun dibalik semua itu, dia berhasil membuktikan bahwa dirinya mampu menjadi penyiar yang terkenal.

Hubungan kami pun Up and down setelah itu. Dia sibuk dengan pekerjaannya akupun sibuk dengan kegiatan kemahasiwaanku (maksudnya sibuk dengan Mas sekretaris 1 karena akhirnya kami jadian….he2.) Hingga akhirnya aku wisuda. Sebelum wisuda aku sempatkan main ke rumahnya, kegiatan yang sudah mulai berkurang semenjak kami sibuk sendiri2. Ibunya kaget ketika tahu aku sudah akan wisuda sementara asri belum selesai skripsinya karena sibuk bekerja. Ibunya sedikit menyalahkan akau karena tidak mendorong asri untuk segera menyelesaikan skripsinya. Waktu itu asri memang sedang enjoy bekerja dan merasa bahwa penghasilannya benar2 diharapkan oleh keluarganya. So, aku tidak berani menge ‘push’ dia. Maaf bu Darini…..
3 bulan setelah wisuda, aku menikah….tp bukan dengan mas “Sekretaris 1”…hehehe. Aku dipilihkan yang lebih baik sama Alloh…Alhamdulillah.

Tak berapa lama Asri pun pindah kerja ke ibukota. Hubungan kami pun semakin berbeda setelah itu..tidak sedekat dulu. Dulu aku sering membayangkan bila jika kami sudah berpisah kami akan benar2 menjadi orang yg berbeda. Hal ini karena aku melihat sudah ada kecenderungan sejak kami mahasiswa. Dia cenderung nge pop….aku lebih ke agama. Bahkan aku sering membayangkan suatu hari nanti kami akan bertemu dan berasa aneh satu sama lain. Penampilan kami akan bertolak belakang….. hehe..
Tapi, sekarang (setelah 10 tahun berpisah karena jarak dan waktu) hubungan kami tetap terjalin melalui banyak media yg tersedia saat ini. Tapi itu juga cuma sesekali aja. Taka pa yang penting silaturahim tetep terjaga. Doaku pun selalu ada untukmu  teman terbaikku. Semoga kau semakin meningkat dalam seluruh aspek kehidupanmu untuk dunia akhiratmu. Bahagia selalu dan selalu sehat.
Jadi ingat ketika dia sakit, aku ikut sedih dan bingung. Dia bilang lambungnya bocor dan hal itu bias berakibat fatal. Kau memang sering sakit, apalagi riwayat keluargamu yang mempunyai gen pembawa kanker. Jadi ngeri membayangkannya. So, doaku agar kau selalu sehat selalu kupanjatkan untukmu….
Oke deh.

Buat asri, mungkin sekarang sudah ada sahabat yg mengisi hidupmu….tapi tak ada salahnya kan klo kita rewind sebentar cerita hidup kita….hehe….
Love you babe….







                                                                                                                                             

Comments

Popular posts from this blog

tagihan kartu kredit (lagi)

Pentas Seni SDN GEDONG 03 PAGI

Menata Niat Kerja Semata-mata untuk Ibadah